Strength: Ikon Sosok tentara profesional dan karakter pemimpin yang kuat.
Weakness: Kurangnya tingkat popularitas untuk kalangan masyarakat di luar militer.
Opportunity: Mulai pulihnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin dari militer.
Threat: Ryamizard tidak disukai Amerika. Washington kabarnya menilai sosok Ryamizard sebagai jenderal yang konservatif ( closed mind).
Seandainya saya PR consultant Ryamizard Ryacudu, saya akan memposisikan dia sebagai role model bagi anak-anak muda yang mempunyai kemauan keras tapi tidak mempunyai kesempatan. Menjadi sosok figur yang pantang menyerah, berani, dan pengambil resiko dalam mempertahankan idealismenya.
Sebagai langkah awal, saya akan membuatkan website yang tidak ada sama sekali nuansa militer. Cukuplah diwakili oleh sebuah foto profil yang walau pakaian sipil, tapi kharisma karakter seorang jenderal bisa terlihat dari pose raut wajahnya.
Selain berisi pemikiran beliau tentang kepemimpinan dan bernegara. Website ini juga fokus tentang bagaimana cara menterjemahkan filosofi militer ke dalam kehidupan sehari-hari. Tentang kedisiplinan, integritas dan kerja keras.
Misal saja kisah Ryamizard Ryacudu yang sebenarnya sudah diterima di AKABRI 1969. Tapi batal karena kecelakaan patah kaki saat pelonco di Gunung Tidar, Magelang. Setahun kemudian Ryamizard mencoba lagi dan lolos.
Untuk menanggulangi “weakness”. Saya menyarankan Ryamizard Ryacudu mendirikan sebuah gerakan sosial peduli anak bangsa yang saya beri nama “Tunas Patriot”. Fokus memberikan kepedulian dan semangat kepada anak-anak di pedesaan, karena sebagian besar masyarakat di pedesaan mengagumi sosok “jenderal” dan bangga bila anaknya menjadi seorang tentara.
Nama “Tunas Patriot” dipilih karena sesuai dengan “goal” gerakan ini dan juga karena Ryamizard Ryacudu sangat menyukai kata “patriot”. Itu bisa dilihat dari nama anak-anaknya yang memakai nama patriot.
Untuk meningkatkan popularitas di media dan keluarga Indonesia, saya menyarankan Ryamizard Ryacudu aktif di kegiatan dan kepengurusan Pramuka.
Yang pasti personal branding ini ditujukan sebagai pengabdian kepada bangsa dan negara, bukan semata-mata untuk mengejar “kekuasaan”. Seperti kata Ryamizard Ryacudu sendiri “ Pimpinan itu ditunjuk, sedangkan pemimpin itu diakui banyak orang. Untuk menjadi seorang pemimpin, tidak perlu mesti jadi pimpinan”
Referensi :
1. Ndolu. Freddy (2009). Most Wanted Leaders – Sosok dan Pemikiran Untuk Indonesia. Jakarta : Indonesiasatu Publisher
2. Tokohindonesia.com