Optimalkan Facebook untuk Cyber PR bagian 2

Melanjutkan tulisan “optimalkan facebook untuk cyber PR bagian 1”, pada bagian kedua ini saya akan membahas tentang groups dan halaman (pages) di facebook. Fitur ini sangat berguna bagi kegiatan cyber PR dalam mempromosikan produk, kegiatan sosial, branding  dan lain sebagainya.

Saya mulai dari definisi Facebook Groups dan Facebook Pages :

Facebook Pages adalah layanan untuk memungkinkan seseorang berbagi bisnis dan produk dengan para pengguna facebook dalam bentuk halaman profil. Seperti profil bisnis, figur publik, band, politisi, dsb.
Berikut skrinsut contoh Facebook Pages :

facebookpages

Facebook Groups adalah layanan untuk sarana komunikasi, berbagi dan berkumpulnya para pengguna Facebook yang memiliki kepentingan atau minat yang sama akan suatu hal. Seperti grup untuk alumni sekolah, komunitas, dsb
Berikut skrinsut contoh Facebook Groups :
facebookgroup

Perbedaan antara Facebook Groups dan Facebook Page :

Facebook Pages :

  • Status hubungan di page adalah fans, Anda menjadi “penggemar” dari halaman facebook.
  • Pemilik / admin dari page tidak diperlihatkan
  • Diperuntukkan untuk “membuat profile” dari sesuatu produk, bisnis, public figure, bisnis, dll. Bertujuan untuk promosi
  • Dapat menambahkan aplikasi facebook.
  • Terdapat fitur untuk memonitor traffic page. Seperti wp-stats pada wordpress
  • Page dapat dipromosikan melalui facebook ads, dengan biaya tentunya
  • Dapat memiliki alamat URL khusus. Contoh: http://facebook.com/epalembang
  • Terdapat feed activity dari page
  • Terdapat fitur untuk memonitor jumlah pengunjung Pages.
  • Memiliki status update yang akan muncul di halaman update para Fans.
  • Admin dapat mengirimkan pesan ke semua Fans berapapun jumlah Fans-nya.

Facebook Groups:

  • Status hubungan di groups adalah member. Anda menjadi “bagian” dari komunitas groups
  • Pemilik / Admin groups diperlihatkan
  • Diperuntukan sebagai tempat berkumpulnya pengguna facebook dengan kesamaan minat dan kepentingan. Bertujuan untuk gathering
  • Tidak bisa menambahkan aplikasi pada group karena group itu sendiri merupakan aplikasi.
  • Tidak ada fitur untuk memonitor traffic groups
  • Tidak dapat dipromosikan melalui facebook ads
  • Tidak dapat memiliki alamat URL khusus.
  • Setiap member group dapat mempost kan item di “posted items”
  • Tidak terdapat fitur untuk memonitor jumlah pengunjung Groups.
  • Tidak memiliki status update.
  • Admin dapat mengirimkan pesan ke semua Member jika jumlah Member kurang dari 5000.

Persamaan antara Facebook Groups dengan Facebook Page adalah sama-sama memiliki fitur Wall, Discussion Board dan fitur Photo & Video.

Hal penting yang harus di ingat :

Facebook Pages : Anda tidak bisa merubah tipe halaman, Pilihlah dengan cermat tipe halaman yang sesuai dengan tujuan anda sebelum membuat halaman facebook, agar fiturnya bisa dimanfaatkan secara optimal. Jika tidak! Anda terpaksa menghapus terlebih dahulu sebelum membuat yang baru dan otomatis fans akan kembali jadi NOL :D

Nah.. biar tahu bagaimana cara memilih tipe halaman facebook yang tepat untuk kepentingan anda, nantikan pembahasan saya mengenai cara mengoptimalkan Facebook Pages.

Facebook Groups : walaupun Anda dapat membuat Group sebanyak-banyaknya, jangan sampai Anda membuatnya secara berlebihan karena akan diblokir oleh pihak Facebook. Buatlah sesuai dengan minat anda dan sebaiknya berkolaborasi dengan yang lain. Satu lagi! Jangan penuhi inbox surat member anda dengan informasi yang bukan bersifat undangan acara atau penawaran khusus. Jika informasinya bersifat umum,cukup di wall saja.

Baik pages maupun groups, Anda harus merupakan perwakilan resmi dari produk, organisasi atau bisnis yang Anda buat. Bila aturan ini dilanggar, bukan hanya Pages/Groups Anda saja yang akan dihapus, tapi akun Facebook Anda juga bisa hilang di telan bumi..eh dunia maya :D

Kemampuan Menulis Seorang Public Relations Bagian 1

naskah prHanya sebagian kecil dari manajer perusahaan, tokoh organisasi dan tokoh publik yang memiliki kemampuan menulis sama bagusnya dengan kemampuan berbicara. Kemampuan menulis dipakai untuk menulis artikel di media, pidato, memberikan pernyataan (testimoni) dan memo. Jika tidak di kelola dengan baik, bisa berdampak buruk bagi pencitraan perusahaan, organisasi atau tokoh tersebut.

Untuk mengatasi hal ini, mereka seringkali membutuhkan penasehat dari seorang praktisi public relations. Saya akan mencoba berbagi tulisan tentang bagaimana strategi kemampuan menulis seorang public relations.

Public Relations harus memahami dulu faktor yang mempengaruhi pemahaman publik atas informasi yang dibaca, kemudian komunikasikan ide atau penjelasan kepada publik melalui tulisan yang jelas, enak dibaca dan mudah dipahami.

Pada prinsipnya ada beberapa hal krusial dalam penulisan naskah Public Relations yang perlu dipertimbangkan. Bapak Prayudi membaginya dalam 5 hal ((Prayudi. 2007. Penulisan Naskah Public Relations. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET.)) , supaya tercipta pemahaman yang baik dibenak publik terhadap organisasi, tokoh, atau perusahaan.

1. Tujuan Penulisan

Secara umum tujuan penulisan naskah PR sama dengan tujuan public relations. Grunig dan Hunt (1983:134) ((Grunig, James E & Todd Hunt. 1984. Managing Public Relations. Florida: Holt,Rinehart, and Winston Inc.)) mengidentifikasi 5 tujan aktivitas PR, yakni : komunikasi, menerima pesan, penerimaan kognisi, pembentukan atau perubahan sikap (penilaian atau keinginan perilaku) dan perilaku terbuka.

Kejujuran, fakta dan informasi yang disampaikan harus bisa memenuhi harapan dari berbagai publik organisasi, dan disaat yang bersamaan bisa menciptakan pengertian bersama antara organisasi dengan publik. Praktisi PR harus menjaga reputasi perusahaan di satu sisi dan memahami keinginan publik di sisi lain.

2. Objektivitas

Penulisan naskah harus mengacu kepada manfaatnya, serta terpisah dari identitas penulis. Agar informasi anonimus itu diterima publik, kata dan kalimat yang termuat harus memiliki integritas dan wewenang.

Integritas dipahami sebagai tulisan yang memuat kepentingan atau tujuan dari dikeluarkannya tulisan, sedangkan wewenang dipahami sebagai kompetensi atas dikeluarkannya tulisan yang dianggap dapat mewakili pihak manajemen.

3. Review Sumber Informasi

Praktisi PR harus teliti mengecek kembali naskahnya sebelum di publikasi. Mulai dari apakah gagasan pokok telah dituangkan dalam bahasa yang benar, sampai pengenalan karakater media tempat naskah akan diterbitkan.

Selain itu, dibutuhkan kutipan penjelasan dari tenaga ahli apabila menyangkut isu yang sangat bersifat teknis dan menyangkut nyawa manusia. Seperti : kandungan kimia, alat kesehatan, zat makanan dan lain sebagainya. Pastikan kata – kata istilah yang digunakan sudah dipahami secara jelas dan komprehensif.

4. Dampak yang diharapkan.

Selain dampak tulisan kepada publik yang membaca, seorang Publik Relations juga perlu memikirkan dampaknya bagi media. Harus memberikan strategi solusi kreatif, bagaimana pihak media tersebut bisa mendapatkan persepsi positif yang mendalam.

Kemas informasi, pesan dan data mengenai perusahaan/organisasi dalam berbagai bentuk, seperti press kit atau media kit yang berisi factsheet, backgrounders yang pada prinsipnya memuat profil perusahaan, whitepaper, brosur, dan flier.

5. Teknik Tulisan

Teknik penulisan naskah harus sesuai dengan publik sasaran, misalnya pilihan kata, penggunaan tata bahasa, dan sisi yang ingin ditonjolkan dari naskah yang akan ditulis.

Praktisi PR tidak menjual produk, tetapi membangun image produk dengan teknik edukasi konsumen. PR tidak menegaskan perusahaan telah mengeluarkan produk, tapi lebih dari memfokuskan pada manfaat dan keunggulan produk tersebut bagi konsumen.

Sebatas ini saja dulu bagian pertama, selanjutnya saya akan menulis tentang teknik penulisan naskah public relations pada bagian kedua.

Referensi :

Sejarah Perkembangan Public Relations Di Indonesia

PR IndonesiaUntuk melengkapi postingan tentang sejarah perkembangan Public Relations di dunia sebelumnya, berikut Sejarah perkembangan Public Relations di Indonesia.

Sejarah perkembangan Public Relations di Indonesia secara konsepsional terjadi pada tahun 1950-an. Kala itu berdiri organisasi HUMAS pertama kali di perusahaan perminyakan negara ( Pertamina). Peranan divisi HUPMAS ( Hubungan Pemerintah dan Masyarakat ) Pertamina ini sangat penting dalam upaya menjalin hubungan komunikasi timbal balik dengan pihak klien, relasi bisnis, perusahaan swasta/BUMN/Asing dan masyarakat.

Kemudian pada tahun 1954, secara resmi HUMAS diterapkan pada jajaran kepolisian. Dilanjutkan di berbagai instansi pemerintah dan perusahaan swasta pada tahun 1970-an.

Jika dikaitkan dengan state of being, dan sesuai dengan method of communication, maka istilah Humas dapat dipertanggung jawabkan. Tetapi, jika kegiatan yang dilakukan oleh Kepala Hubungan Masyarakat itu, hanya mengadakan hubungan dengan khalayak di luar organisasi, misalnya menyebarkan press release ke massa media, mengundang wartawan untuk jumpa pers atau wisata pers, maka istilah hubungan masyarakat tersebut tidaklah tepat apabila dimaksudkan sebagai terjemahan dari public relations. ((Onong U, Effendy. 1993. Human Relations dan Public Relationas. manda Maju.))

Bapak Rosady Ruslan, SH, MM membagi perkembangan public relations di Indonesia dalam 4 periode ((Ruslan Rosady. 1998. Manajemen PR & Media Komunikasi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.)) sebagai berikut :

1. Periode 1 ( Tahun 1962 )

secara resmi pembentukan HUMAS di Indonesia lahir melalui Presidium Kabinet PM Juanda, yang menginstruksikan agar setiap instansi pemerintah harus membentuk bagian/divisi HUMAS. Dijelaskan pula garis besar tugas kehumasan dinas pemerintah adalah : Tugas strategis yaitu ikut serta dalam proses pembuatan keputusan oleh pimpinan hingga pelaksanaaannya. Dan tugas taktis yaitu memberikan informasi, motivasi, pelaksanaaan komunikasi timbal balik dua arah supaya tercipta citra atas lembaga/institusi yang diwakilinya.

2. Periode 2 ( Tahun 1967 – 1971 )

Pada periode ini terbentuklah Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas). Tata kerja badan ini antara lain ikut serta dalam berbagai kegiatan pemerintah dalam pembangunan, khususnya di bidang penerangan dan kehumasan, serta melakukan pembinaan dan pengembangan profesi kehumasan.

Tahun 1967, berdiri Koordinasi antar Humas Departemen/ Lembaga Negara yang disingkat “Bakor” yang secara ex officio dipimpin oleh pimpinan pada setiap departemen.

Tahun 1970- 1971, Bakor diubah menjadi Bako-humas (Badan Koordinasi Kehumasan Pemerintah ) yang diatur melalui SK Menpen No. 31/Kep/Menpen/tahun 1971. Yang menjelaskan sebagai institusi formal dalam lingkungan Departemen Penerangan RI. Bakohumas tersebut beranggotakan Humas departemen, Lembaga Negara serta unit usaha negara/BUMN. Kerjasama antara Humas departemen/institusi tersebut menitikberatkan pada pemantapan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi dalam operasi penerangan dan kehumasan.

3. Periode 3 ( Tahun 1972 – 1993 )

Periode ini ditandai dengan munculnya Public Relations kalangan profesional pada lembaga swasta umum. Dengan indikator sebagai berikut:

1. Tanggal 15 desember 1972 didirikannya Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia ( Perhumas ) sebagai wadah profesi HUMAS oleh kalangan praktisi swasta dan pemerintah. Seperti wardiman Djojonegoro ( mantan mendikbud), Marah Joenoes (mantan kahupmas Pertamina), dll

pada konvensi Nasional HUMAS di Bandung akhir tahun 1993 lahirlah Kode Etik Kehumasan Indonesia ( KEKI ). Perhumas juga tercatat sebagai anggota International Public Relations Association ( IPRA) dan ASEAN Public Relations Organization (FAPRO).

2. Tanggal 10 April 1987 di jakarta, terbentuklan suatu wadah profesi HUMAS lainnya yang disebut dengan Asosiasi Perusahaan Public Relations ( APPRI ). Tujuannya adalah sebuah wadah profesi berbentuk organisasi perusahaan – perusahaaan public relations yang independen (konsultan jasa kehumasan ).

4. Periode 4 ( Tahun 1995 – sekarang )

Periode ini Public Relations berkembang di kalangan swasta bidang profesional khusus ( spesialisasi PR/HUMAS bidang industri pelayanan jasa). Dengan indikator sebagai berikut:

1. Tanggal 27 November 1995 terbentuk Himpunan Humas Hotel Berbintang ( H-3). Himpunan ini diperuntukkan sebagai wadah organisasi profesi HUMAS bidang jasa perhotelan, berkaitan erat dengan organisasi PHRI ( Perhimpunan Hotel dan Restoran di Indonesia).

2. Tanggal 13 september 1996 diresmikannya Forum Komunikasi Antar Humas Perbankan ( FORKAMAS) oleh Gubernur BI Soedradjad Djiwandono. Forum ini resmi bagi para pejabat HUMAS ( Public Relations Officer ), baik bank pemerintah ( HIMBARA), swasta ( PERBANAS), dan asing yang beroperasi di bidang jasa perbankan di Indonesia.

3. Keluarnya SK BAPEPAM No.63/1996, tentang wajibnya pihak emiten (perusahaan yang go public) di Pasar Bursa Efek Jakarta ( BEJ) dan Bursa Efek Surabaya memiliki lembaga Corporate Secretary.

4. Berdirinya PRSI ( Pulic Relations Society of Indonesia ) pada tanggal 11 november 2003 di Jakarta. ini menyerupai PRSA ( Public Relations Society of Amerika), sebuah organisasi profesional yang bergengsi dan berpengaruh serta mampu memberikan sertifikasi akreditasi PR Profesional (APR) di Amerika yang diakui secara internasional.

PRSI atau Masyarakat PR Indonesia (MAPRI) pertama kali dipimpin oleh August Parengkuan seorang wartawan senior harian Kompas dan mantan ketua Perhumas-Indonesia. Tujuan organisasi ini adalah meningkatkan kesadaran, kepedulian, kebersamaan, pemberdayaan serta pastisipasi para anggotanya untuk berkiprah sebagai PR professional dalam aktivitas secara nasional maupun internasional.

sumber gambar : catatanprnotes.blogspot.com

Referensi :

Sejarah Perkembangan Public Relations Di Dunia

sejarahpr Profesi itu merupakan bagian dari pencerminan diri, jangan biarkan dia hanya menjadi alat yang tidak punya sentuhan cinta, kebaikan dan tidak menjadi sumber kebahagiaan. Untuk menghindari hal tersebut, kita harus terlebih dahulu mengerti tentang filosofi, etika, sejarah dan lain sebagainya

Bagi yang ingin menggeluti dunia public relations, saya akan coba mengajak bersama-sama untuk belajar di blog ini. Mungkin ada baiknya kita mulai dari Sejarah Public Relations Dunia,sejarah Public Relations di Indonesia, definisi,riset, press release dan lain-lain .

Sejarah perkembangan Public Relations di dunia dibagi dalam beberapa periode ((Ruslan Rosady. 1998. Manajemen PR & Media Komunikasi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.))  berikut ini :

1. PR as non organized activity periode ( Periode tahun 1700 – 1800 )

Periode dimana public relations muncul dalam bentuk aktivitas yang tidak terorganisasi dengan baik, dikala itu banyak diwarnai dengan kegiatan penyatuan pendapat rakyat umum untuk kemerdekaan/kebebasan dari perbudakan dan sistem kolonialisme yang melanda dunia.Kegiatan diwarnai dengan acara yang sederhana, penyelenggaraan pidato, pertemuan dan korespondensi antarindividu. Banyaknya deklarasi kemerdekan membuat periode ini disebut juga dengan periode “Public of Independence”

2. Periode tahun 1801 – 1865 ( PR as organized activity periode)

Seiring dengan adanya kemajuan atau perkembangan bidang industri, keuangan, perdagangan dan teknologi. Aktivitas Public Relations mulai terorganisasi dengan baik, hal ini dapat dilihat dari Pesatnya perkembangan hubungan perdagangan lokal, nasional maupun internasional.Periode ini disebut masa perkembangan aktivitas PR ( PR of expansion) karena keberhasilan aktivitas PR/Humas dan pers yang mengkampanyekan anti perbudakan di kawasan negara – negara Eropa, Amerika, dan negara maju lainnya.

3. PR as professional ( Periode tahun 1866 – 1900 )

Pada masa ini, aktivitas PR berubah bentuk menjadi suatu kegiatan profesional. Hal ini dikarenakan adanya perkembangan dari kemajuan teknologi industri berupa meluasnya penggunaan listrik dan mesin pembakaran  (internal combustion engine).PR dimanfaatkan para robber barons (tuan tanah perampok) untuk kegiatan bisnisnya yang menganut asas laissez faire, sistem ekonomi monopoli yang tidak memperdulikan nasib rakyat/pekerjanya.Karena itu, Public Relations pada masa ini disebut masa the public to be damned periode (1811 – 1900). ((Jefkins, Frank dan Daniel Yadin. 1996. Public Relations. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga))

4. Public be informed periode ( Periode tahun 1901 – 1919 )

Aktivitas Public Relations pada masa ini adalah melakukan investigative reporting (reportase investigasi) untuk melawan para petani, populis, kristiani, sosialis dan serikat buruh yang memprotes keras tindak kejahatan yang dilakukan oleh para usahawan, politisi tidak bermoral serta koruptor. Mereka mengupah wartawan untuk membalas perlawanan tersebut dengan mempengaruhi berita yang dimuat di media massa.

Tercatat dalam sejarah Public Relations. Pada tahun 1906 seorang paktisi dan sekaligus tokoh Public Relations Amerika Serikat Ivy Ledbetter Lee, berhasil mengatasi krisis pemogokan massal yang melumpuhkan kegiatan industri pertambangan batu bara  dan perusahaan kereta api Pennsylvania Rail Road melalui strategi Management of PR Handling and Recovery. Dia berkerja sama dengan pihak pers yang mengacu pada Declaration of Principles.

5. The Public Relations and mutual understanding periode ( Periode tahun 1920 – sekarang )

Pada tahun 1923 PR/Humas dijadikan bahan studi, pemikiran dan penelitian di perguruan tinggi sebagai sebuah profesi baru. Perkembangan sekarang ini menunjukan adanya penyesuaian, perubahan sikap, saling pengertian, saling menghargai dan toleransi di berbagai kalangan organisasi dan publik.

Referensi :